REVIEW JURNAL OPINI PUBLIK




Nama   : Alif Dio Brilian Utama Putra


Kelas   : B Administrasi Publik 2017


Tugas   : Mata Kuliah Opini Publik (Review Jurnal)












































































REVIEW JURNAL



Judul



Opini Publik Terhadap Kasus “KPK Lawan Polisi” dalam Media Sosial Twitter



Jurnal



Jurnal
Pekommas



Volume
& Halaman



Volume.
17 No. 2 & 61-70



Tahun



2014



Penulis



Christiany
Juditha



Reviewer



Alif
Dio Brilian Utama Putra



Tanggal



16
Oktober 19



Pendahualan



Kata
Opini Publik, terdiri dari kata Opini dan Publik. Opini menurut Effendi
(2003) tidak memiliki tingkatan namun memiliki arah yaitu 1. Opini positif,
menyebabkan seseorang bereaksi secara menyenangkan terhadap orang lain atau
suatu persoalan; 2. Opini netral, jika seseorang tidak memiliki opini
mengenai persoalan yang mempengaruhi keadaan; dan 3.Opini negatif,
menyebabkan seseorang memberikan opini yang tidak menyenangkan atau
beranggapan buruk terhadap orang lain atau suatu persolan.


Susanto (1975) berpendapat bahwa
opini publik mengandung unsur-unsur yaitu kemungkinan pro dan kontra, sebelum
mencapai konsesus; Melibatkan lebih dari seseorang (misalnya, kelompok,
masyarakat, dan lain-lain); Dinyatakan; dan Mengadakan tanggapan yang pro
maupun yang kontra. Sementara Herbert Blumer (1967) berpendapat bahwa
unsur-unsur opini publik dikonfrontasikan/dihadapkan pada suatu isu; memiliki
perbedaan pendapat tentang isu; dan terlibat dalam diskusi mengenai isu
tersebut.


Media
sosial Twitter merupakan situs yang sedang populer di seluruh dunia.
Menurut Elcom (2010), Twitter adalah jejaring sosial yang dapat
memberikan update (pembaruan) berbagai informasi melalui status yang
disebut sebagai tweets. Kesederhanaan tampilan dan keringkasannya
dalam 140 karakter tidak membuat pengguna kesulitan dalam mengakses berbagai
informasi. Pengguna Twitter justru dapat leluasa mengakses berbagai
informasi yang paling up to date.


Berbagai fitur ditawarkan oleh situs jejaring sosial Twitter.
Salah satu fitur yang menarik adalah trending topics, yaitu sebuah
fitur yang menampilkan daftar topik yang sedang menarik perhatian banyak
pengguna Twitter (Huberman dkk., 2011). O‟Reilly dan Milstein (2009)
menyatakan, trending topics memuat daftar sepuluh peringkat teratas
kata paling populer yang terdapat pada tweets pengguna Twitter dalam
waktu tertentu. Daftar trending topics diperbarui setiap beberapa
menit, khususnya ketika terdapat topik baru yang menjadi populer.



Latar
Belakang Masalah



Kasus
KPK versus Polisi merupakan kasus yang paling banyak mendapat tanggapan dari
masyarakat salah satunya melalui media sosial Twitter. Dalam waktu
beberapa hari saja, opini yang terbentuk adalah KPK berada diposisi yang
benar, sementara polisi berada diposisi yang salah.



Tujuan
Penelitian



Untuk
mendapatkan gambaran tentang opini publik terhadap kasus KPK versus Polisi di
media sosial Twitter



Metode
Penelitian



Analisis
Kuantitatif



Hasil
dan Pembahasan 



Hasil
penelitian menunjukkan bahwa isi tweet/status dengan hashtag #saveKPK
dan #saveindonesia mayoritas mendukung kinerja KPK dan tidak mendukung
insitusi Polri. Isi pesan tweet juga banyak yang tidak mendukung
kinerja presiden SBY dengan mempertanyakan keberadaan presiden disaat-saat
perseteruan antara KPK vs Polisi itu sedang berlangsung. Opini-opini pribadi
pada Twitter ini dengan cepat saling pempengaruhi satu sama lain
sehingga dapat membentuk satu kesamaan opini yang menggiring opini pribadi
menjadi opini publik.


Puncak dari kasus ini adalah saat
kedatangan aparat kepolisian pada 6 Oktober 2012 malam ke kantor KPK untuk
menangkap Kompol Novel Baswedan dengan alasan harus ditahan setelah melakukan
tindak pidana di Bengkulu tahun 2004. Peristiwa ini secara cepat
membangkitkan keprihatinan publik apalagi tekanan pada upaya pemberantasan
korupsi oleh KPK dirasa sudah sangat kuat. Akibatnya dukungan pun mengalir
cepat dengan terbentuknya secara spontan gerakan solidaritas menduduki kantor
KPK untuk mendukung KPK. Dukungan ini tidak saja disiarkan melalui media
media nasional, tetapi media jejaring sosial terutama Twitter ikut
menyiarkan apa yang tengah berlangsung di gedung KPK. Bahkan dengan cepat
media jejaring sosial ini dapat membentuk opini publik tentang “Upaya
Kriminalisasi KPK” dengan tanda pagar (#) hashtag #saveKPK dan
#saveindonesia. Setiap detik dari peristiwa selanjutnya, di dunia maya,
selalu muncul dalam timeline yang di re-tweet oleh para followers
yang membaca dan mengikuti proses ini.


Proses yang terjadi kemudian
dengan cepat membentuk opini publik yang kebanyakan memang mendukung KPK
daripada Polisi. Polisi dianggap sebagai pihak yang bersalah sementara KPK
sebagai pihak yang benar. Namun kemudian yang menjadi permasalahan karena
opini yang terbentuk melalui ruang virtual ini sangat menyudutkan pihak-pihak
tertentu dengan menggunakan kata-kata makian, hujatan, mencemarkan nama baik
serta sejenisnya. Jika dihubungkan maka hal tersebut juga melanggar
Undang-Undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
(ITE).


Paparan
latar belakang tersebut diatas memunculkan pentingnya untuk melakukan
penelitian tentang opini publik melalui tweet/kicauan (pesan/status)
pada Twitter, khususnya kasus KPK vs Polisi. Sehingga rumusan masalah
dari penelitian ini adalah bagaimana opini publik terhadap kasus KPK vs
Polisi di media sosial Twitter? Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mendapatkan gambaran tentang opini publik terhadap kasus KPK vs Polisi
di media sosial Twitter.



Kelebihan



1.     
Sudah menggunakan EYD


2.     
Terdapat teori awal yang menjelaskan apa itu opni
publik


3.     
Terdapat teori atau pengertian tentang apa aitu
twitter


4.     
Terdapat Menggunakan kaliamat yang mudah
dimengengerti


5.     
Terdapat gambar yang menujukan bukti kasus yang
diteliti


6.     
Terdapat grafik penelitian yang memudahkan pembaca
untuk memahami materi yang dijelaskan


7.     
Metode penelitian yang jelas


8.     
Memberikan solusi terhadap permasalahan yang
disajikan


9.     
Terdapat dasar hukum undang-undang dalam jurnal
ini



Kekurangan



1.     
Kasus yang disajikan sedikit membingungkan karna
lebih banyak membahas kasus pada tahun 2012 sdangkan tahun dikeuarkan jurnal
adalah tahu 2014


2.     
Bisa dibilang kasus yang disajikan adalah kasus
lama



Kesimpulan



Penelitian
ini menyimpulkan bahwa opini pengguna Twitter yang termuat dalam isi tweet/status
dengan hashtag #saveKPK dan #saveindonesia mayoritas mendukung kinerja
KPK dan tidak mendukung insitusi Polri dan polisi. Isi pesan tweet juga
banyak yang tidak mendukung kinerja presiden SBY dengan mempertanyakan
keberadaan presiden disaat-saat perseteruan antara KPK vs Polisi ini sedang
berlangsung. Opini-opini pribadi yang terbentuk pada media sosial seperti Twitter,
akan saling pempengaruhi satu sama lain sehingga dapat membentuk satu
kesamaan opini yang menggiring opini pribadi menjadi opini publik. Apalagi
melalui media sosial seperti Twitter yang memiliki sifat yang cepat
sehingga dengan cepat juga dapat membentuk opini publik. Tweet yang
diposting oleh orang-orang ternama seperti artis dan selebriti lainnya akan
semakin memudahkan opini publik tersebut terbentuk. Ini ditandai dengan
adanya retweet berkali-kali dari postingan sang selebriti tersebut.
Hal ini tentunya menyebabkan opini semakin cepat menyebar dan dibaca orang
lain sekaligus membentuk kesamaan opini.


Kebebasan berpendapat melalui media sosial tentunya harus
diikuti dengan pemberlakuan etika dalam berpendapat. Dimana kebanyakan
pengguna internet saat mengemukakan pendapat mereka melalui media sosial
tidak mengedepankan etika dan tata krama. Sehingga banyak status dan komen
yang tidak menghargai baik pribadi seseorang maupun institusi. Tidak
dipungkiri bahwa sifat media sosial yang bebas dan cenderung tidak terkendali
sehingga tanpa sadar terkadang pengguna dengan bebas juga menyerang privasi
seseorang. Dengan menjunjung etika, informasi yang dipublikasikan meski itu
tentang ketidaksetujuan terhadap suatu masalah, namun tidak merugikan dan
memojokkan orang lain, maka informasi tersebut dapat juga ditanggapi secara
positif bagi setiap orang yang baca dan menerimanya.



Saran



Penelitian
ini juga merekomendasikan beberapa hal diantaranya, bahwa pemerintah perlu
memperhatikan secara cermat tentang opini yang terbentuk melalui media
sosial, apalagi itu menyangkut persoalan yang besar. Hal itu sekaligus dapat
dipakai sebagai penentuan kebijakan. Bagi pengguna media sosial, perlu
pemahaman tentang mengemukakan pendapat di media sosial dengan cara santun.
Disamping itu pengguna perlu juga memahami akan UU Informasi dan Transaksi
Elektronik (ITE) khususnya Pasal 27, tentang penghinaan melalui internet,
sehingga tidak mendapat masalah dikemudian hari. Penelitian-penelitian
lanjutan mengenai opini publik melalui media sosial hendaknya terus dilakukan
untuk memperkaya pemahaman tentang hal tersebut. Mengingat pembentukan opini
publik pada media sosial sangat berbeda dengan yang terbentuk melalui media
massa.



Daftar
Pustaka



Sudibyo,
A. (2012). Jurnalisme Warga. Kompas 13 Oktober 2012.


Blumer,
H. (1967). Interactionism. New Jersey : Prentice-Hall. 9.


Darajati,
Z. K. (2013). Gerakan Sosial Mahasiswa Komunikasi FISIP Universitas Airlangga
Pada Ruang Publik Facebook. Jurnal Media Komunitas Volume : 2 - No. 1 Terbit
: 1 2013. http:// journal. unair.ac.id/ filerPDF / abstrak_4705135_
tpjua.pdf. akses 16 Juli 2014.


Deller, R. (2011). Twittering on: Audience research and
participation using Twitter.
Participaions Journal of Audience &
Reception Studies, Vol. 8 Issue 1


http://www.participations.org/Volume%208/Issue%201/deller.htm,
akses 16 Juli 2014.


Effendy,
O. U. (2003). Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung : Citra Aditya
Bhakti. 35.


Elcom.
(2010). Twitter Best Social Networking. Yogyakarta : Penerbit Andi. 1.


Huberman,
B. A., Wu, F. (2007). Novelty and collective attention. Proceedings of
the National. 20.


Hidayat,
R. (2011) Media Sosial Sebagai Alat Pembentuk Opini.
http://www.ridwanhidayat.com/2011/02/media-sosial-sebagai-alat-pembentuk.html,
diakses 28 Agustus 2013.


Holsti,
O. R. (1969). Content Analysis for the Social Science and Humanitiens. Massachusetts
: Addison-Wesley Publishing. 28.


Husni,
A. C. (2013). Opini Publik di Media Sosial Twitter. (Analisis Isi Opini
Kekerasan Seksual Pada Anak).
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/7324/pdf?sequence=1,
akses 16 Juli 2014.


Kompas.com.
(2012). Jurnalisme Warga Perlu etika.
http://nasional.kompas.com/read/2010/04/12/1724043/Jurnalisme.Warga.Tetap.Perlu.Etika,
diakses 28 Agustus 2013.


Merdeka.com.
(2012) Perseteruan Panas KPK vs Polisi di 2012.
http://www.merdeka.com/peristiwa/perseteruan-panas-kpk-vs-polri-di-2012.html,
diakses 5 September 2013.


O'reilly,
T. dan Milstein, S. (2009) The Twitter Book.
http://books.google.co.id/books?id=kHRvB9pp1RwC&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false,
akses 4 September 2013.


Sandi,
A. (2012). Analisis Isi Opini Followers Akun Twitter @Interclubindo,
2012. akses 4 September 2013. 1.


Sunni,
I., Widyantoro, D.H. (2012). Analisis Sentimen dan Ekstraksi Topik Penentu
Sentimen pada Opini Terhadap Tokoh Publik di Jejaring Sosial. Jurnal Sarjana
Institut Teknologi Bandung Bidang Teknik Elektro dan Informatika. Volume 1,
Number 2, Juli 2012. 4.


Susanto,
Astrid, S. (1975). Pendapat Umum. Bandung : Bina Cipta.156.


Xiong, Fei dan Liu, Y. (2014). How Twitter Shapes Public
Opinion.
Journal Chaos. AIP. Cahaos An Interdisciplinary Journal of
Nonlinier Science. http://www.aip.org/ publishing
/journal-highlights/how-twitter-shapes-public-opinion, akses 16 Juli 2014






Komentar

Postingan populer dari blog ini

SISTEM ADMINISTRASI PERPAJAKAN MODERN